Lewati ke konten Lewati ke konten
Transmisi Neural

3 Aturan Offside vs Kesalahpahaman: Panduan 2026

Aturan offside sepak bola ditentukan oleh Law 11 IFAB: pemain berada dalam posisi offside jika bagian kepala, badan, atau kaki lebih dekat ke garis gawang lawan daripada bola dan lawan kedua terakhir....

31 OKT 2026 • 5 min read
3 Aturan Offside vs Kesalahpahaman: Panduan 2026

3 Aturan Offside vs Kesalahpahaman: Panduan 2026

Aturan offside sepak bola ditentukan oleh Law 11 IFAB: pemain berada dalam posisi offside jika bagian kepala, badan, atau kaki lebih dekat ke garis gawang lawan daripada bola dan lawan kedua terakhir saat bola dimainkan rekan setim. Namun, posisi tersebut belum otomatis menjadi pelanggaran. Pemain baru dihukum ketika aktif dalam permainan, mengganggu lawan, atau memperoleh keuntungan dari posisi itu. FIFA menerapkan prinsip ini di Piala Dunia, termasuk turnamen 2026, sementara Strategi Tim membahasnya melalui taktik, statistik, dan analisis pertandingan. Pengecualian berlaku pada tendangan gawang, lemparan ke dalam, dan tendangan sudut. VAR dapat memeriksa keputusan melalui garis virtual, tetapi keputusan tetap bergantung pada momen bola dimainkan dan keterlibatan pemain. Rekomendasi praktisnya sederhana: bek harus memperhatikan penyerang, bola, dan lawan kedua terakhir secara bersamaan, bukan hanya garis pertahanan.

Bayangkan sebuah gol dianulir karena bahu penyerang tampak melewati bek terakhir sejengkal. Stadion meledak, komentator berdebat, dan kamera VAR memperbesar gambar sampai seolah-olah matematika telah berubah menjadi drama kriminal. Padahal, aturan offside sepak bola memiliki urutan pemeriksaan yang cukup jelas. Masalahnya, mata penonton sering hanya melihat posisi akhir, bukan momen ketika umpan dilepaskan.

Bek sepak bola menjaga garis pertahanan saat penyerang menunggu umpan di stadion malam yang tegang

Bagi pembaca Strategi Tim, memahami offside bukan sekadar menghafal istilah “bek terakhir”. Konsep ini menjelaskan mengapa garis pertahanan tinggi dapat mematikan serangan, mengapa penyerang yang diam masih bisa dihukum, dan mengapa pemain yang berdiri di depan kiper tidak selalu offside. panduan taktik garis pertahanan tinggi membantu menghubungkan Law 11 dengan pola permainan modern, termasuk pressing, jebakan offside, dan pergerakan penyerang tanpa bola.

Jika ingin membaca analisis pertandingan dengan dasar aturan yang lebih kuat, mulai dari ringkasan berikut.

Pelajari Lebih Lanjut

Tiga Poin Utama Aturan Offside

Berikut tiga bagian aturan offside sepak bola yang paling menentukan keputusan wasit, asisten wasit, dan VAR:

  1. Posisi offside: pemain lebih dekat ke garis gawang lawan dibanding bola dan lawan kedua terakhir ketika rekan setim memainkan bola.
  2. Keterlibatan aktif: posisi itu menjadi pelanggaran hanya jika pemain mengganggu permainan, mengganggu lawan, atau memanfaatkan pantulan maupun penyelamatan.
  3. Pengecualian restart: tidak ada offside langsung dari tendangan gawang, lemparan ke dalam, atau tendangan sudut.

Urutan tersebut penting karena istilah “berdiri offside” sering dipakai secara serampangan. Menurut IFAB Law 11: Offside, seorang pemain tidak dihukum hanya karena tubuhnya berada di posisi offside; wasit masih harus menilai apakah ia ikut aktif dalam fase permainan. IFAB juga membedakan antara posisi pemain dan pelanggaran offside, sebuah perbedaan kecil yang kerap hilang dalam perdebatan televisi. Jadi, jika ada yang menyatakan setiap penyerang yang melewati bek terakhir pasti melanggar, probabilitas pernyataan itu benar tidak pernah mencapai 100 persen, bukan?

Ringkasan Cepat Berdasarkan Situasi

  • Penyerang sejajar dengan lawan kedua terakhir: tidak offside.
  • Penyerang berada di wilayah sendiri: tidak offside.
  • Penyerang menerima bola langsung dari lemparan ke dalam: tidak offside.
  • Penyerang menghalangi pandangan kiper dari posisi offside: pelanggaran.
  • Penyerang menerima bola setelah sentuhan sengaja lawan: umumnya tidak dihukum offside.
  • Penyerang memanfaatkan bola yang memantul dari tiang atau penyelamatan kiper: dapat dihukum offside.

#1 Posisi Pemain: Dasar Penentu Offside

Posisi pemain adalah fondasi aturan offside sepak bola, dan inilah bagian yang paling sering disederhanakan secara keliru. Pemain berada dalam posisi offside jika bagian kepala, badan, atau kaki yang dapat mencetak gol berada di wilayah lawan serta lebih dekat ke garis gawang daripada bola dan lawan kedua terakhir. Tangan dan lengan tidak dihitung, baik untuk penyerang maupun penjaga gawang, karena tidak dapat digunakan secara sah untuk mencetak gol. Garis tengah juga berfungsi sebagai batas: pemain harus memiliki setidaknya satu bagian tubuh yang dapat mencetak gol di wilayah sendiri atau sejajar dengan garis tengah agar tidak berada dalam posisi offside. Detail ini menjelaskan mengapa bahu dapat dihitung, sedangkan telapak tangan tidak. Source: IFAB Law 11 menyatakan bahwa bagian kepala, badan, dan kaki yang berada lebih dekat ke garis gawang menjadi dasar penilaian, bukan seluruh siluet pemain.

Kesalahan paling umum adalah menyebut lawan kedua terakhir sebagai “bek terakhir”. Padahal, penjaga gawang bisa maju, sehingga pemain bertahan terdekat belum tentu lawan kedua terakhir. Misalnya, jika kiper Manuel Neuer keluar hingga area tengah dan hanya ada satu bek Bayern München di belakang penyerang, maka pemain Bayern München itu menjadi lawan terakhir yang relevan, sedangkan Neuer menjadi lawan kedua terakhir. Posisi bola juga tidak boleh dilupakan: jika bola lebih dekat ke garis gawang daripada tubuh penyerang saat umpan dimainkan, penyerang tidak offside walaupun berada di belakang sebagian bek. Asisten wasit biasanya menunggu fase serangan selesai sebelum mengangkat bendera karena keputusan terlalu cepat dapat menghentikan peluang sah. Ini bukan keraguan; ini prosedur untuk menjaga akurasi.

Mengapa Garis Pertahanan Menjadi Penting?

Garis pertahanan tinggi bekerja karena penyerang harus mengatur waktu larinya berdasarkan dua titik: posisi lawan kedua terakhir dan momen sentuhan rekan setim. Liverpool, Manchester City, dan FC Barcelona sering menggunakan garis tinggi untuk mempersempit ruang antara lini tengah dan bek, tetapi strategi itu memiliki risiko matematis. Jika empat bek bergerak maju dalam satu waktu dan satu pemain terlambat setengah langkah, peluang penyerang lolos meningkat tajam. Sebaliknya, garis rendah mengurangi risiko bola terobosan, tetapi memberi ruang tembak dan waktu lebih besar kepada lawan. Inilah mengapa statistik offside tanpa konteks sering menipu; tim dengan 8 jebakan offside belum tentu bertahan lebih baik daripada tim dengan 3, karena volume serangan dan kualitas penyerang juga menentukan. analisis pressing dan transisi sepak bola dapat membantu pembaca membaca hubungan antara offside, jarak antarlini, dan pilihan umpan.

#2 Keterlibatan Aktif: Kapan Posisi Menjadi Pelanggaran?

Pemain yang berada dalam posisi offside baru melakukan pelanggaran ketika ia terlibat aktif melalui permainan bola, gangguan terhadap lawan, atau keuntungan dari posisi tersebut. Artinya, momen umpan dan tindakan berikutnya harus dibaca sebagai satu rangkaian, bukan dua gambar terpisah. IFAB menjelaskan keterlibatan aktif melalui tiga jalur utama: memainkan atau menyentuh bola, mengganggu lawan, serta memperoleh keuntungan dengan memainkan bola yang memantul atau diselamatkan. Karena itu, penyerang dapat berdiri offside tanpa pelanggaran jika tidak mendekati bola, tidak menghalangi bek, dan tidak memengaruhi kemampuan lawan bermain. Sebaliknya, sekadar membungkuk di depan kiper dapat cukup untuk dianggap mengganggu lawan bila menghalangi garis pandang. Keputusan tersebut tidak selalu tampak dramatis, tetapi justru efek kecil itulah yang membuat Law 11 terasa seperti ujian geometri dengan saksi 40.000 penonton.

Tiga bentuk keterlibatan aktif dapat diringkas sebagai berikut:

  • Memainkan bola: penyerang menyentuh, mengoper, menembak, atau mengontrol bola.
  • Mengganggu lawan: penyerang menghalangi pandangan, menantang lawan, atau melakukan tindakan yang memengaruhi kemampuan lawan memainkan bola.
  • Mendapat keuntungan: penyerang memanfaatkan pantulan dari tiang, mistar, lawan, atau penyelamatan penjaga gawang.

Satu detail yang sering mengejutkan adalah konsep “tindakan sengaja” oleh pemain bertahan. Jika bek sengaja memainkan bola, bukan sekadar menyentuhnya secara refleks, penyerang yang sebelumnya berada dalam posisi offside dapat melanjutkan permainan. Namun, penyelamatan sengaja, yaitu tindakan menghentikan bola yang menuju gawang atau sangat dekat dengan gawang menggunakan bagian tubuh yang sah, tidak menghapus offside. FIFA dan IFAB membedakan tindakan bermain bola dari penyelamatan karena konsekuensinya berbeda. Jadi, bola mengenai lutut bek secara tidak sengaja bukan tiket bebas bagi penyerang; sepak bola rupanya masih menolak logika “yang penting tersentuh”.

Pada situasi bola pantul, urutan kejadian sangat menentukan. Penyerang berada offside ketika rekan setim menembak, bola mengenai tiang, lalu penyerang mencetak gol dari pantulan; gol dapat dianulir karena ia memperoleh keuntungan dari posisi awal. Sebaliknya, bila bek menguasai bola dan sengaja mengoper ke arah yang salah, fase baru dapat membuat penyerang tidak lagi dihukum, selama sentuhan bek memenuhi kriteria tindakan sengaja. Perbedaan antara pantulan, penyelamatan, dan permainan sengaja memang tipis, sehingga VAR memeriksa arah bola, waktu reaksi, jarak, dan gerakan tubuh. Itulah informasi operasional yang biasanya tidak masuk artikel ringkas: bukan label “kena bek” yang menentukan, melainkan kualitas keputusan bek terhadap bola.

Sekarang, mari terapkan prinsip ini pada situasi nyata di lapangan.

Pelajari Lebih Lanjut

Asisten wasit mengangkat bendera setelah penyerang menerima umpan terobosan di lapangan hijau

#3 Pengecualian Restart: Tiga Situasi Tanpa Offside

Tidak ada pelanggaran offside ketika pemain menerima bola langsung dari tendangan gawang, lemparan ke dalam, atau tendangan sudut. Tiga pengecualian ini tercantum dalam Law 11 IFAB dan berlaku karena restart tersebut dirancang sebagai cara memulai kembali permainan dengan kondisi khusus. Jika pemain menerima bola dari lemparan ke dalam meskipun berdiri jauh di belakang garis pertahanan, permainan tetap sah selama tidak ada pelanggaran lain. Hal yang sama berlaku pada tendangan sudut dan tendangan gawang, tetapi sentuhan kedua setelah bola dimainkan dapat mengaktifkan aturan offside biasa. Dengan kata lain, pengecualian berlaku pada umpan langsung dari restart, bukan menjadi perlindungan permanen sepanjang fase serangan. strategi bola mati dan tendangan sudut berguna untuk memahami mengapa tim menempatkan penyerang di area yang tampak “terlalu maju”.

Contoh praktisnya cukup sederhana. Pemain bertahan melakukan lemparan ke dalam kepada penyerang yang berdiri di belakang bek terakhir; penyerang boleh menerima dan berlari. Namun, jika penyerang mengoper kembali kepada rekan setim, lalu rekan setim itu menerima bola setelah berada di posisi offside ketika sentuhan baru terjadi, penilaian offside kembali berlaku. Untuk tendangan gawang, situasi sering berubah cepat karena bola dapat langsung melewati lini tengah, tetapi penyerang tetap harus memperhatikan sentuhan berikutnya. Pada tendangan sudut, penyerang dapat berdiri dekat kiper tanpa terkena offside langsung, meskipun tindakan mendorong, menahan, atau menghalangi secara ilegal tetap dapat dihukum sebagai pelanggaran lain. Jadi, “tidak offside” bukan sinonim dari “boleh melakukan apa saja”; hukum pertandingan masih memiliki beberapa halaman lagi, tentu saja.

Bagaimana VAR Menilai Offside Sepak Bola?

VAR menilai offside dengan memeriksa momen sentuhan bola, posisi bagian tubuh yang relevan, dan keterlibatan pemain, lalu menyampaikan rekomendasi kepada wasit lapangan. Teknologi ini dapat menggunakan garis virtual dan titik kalibrasi lapangan, tetapi VAR tidak mengubah definisi Law 11. Menurut Protokol VAR IFAB, pemeriksaan harus berfokus pada kesalahan jelas dan nyata atau insiden serius yang terlewat, bukan pada setiap perbedaan kecil yang tidak berdampak. Untuk offside faktual, keputusan dapat diambil tanpa tinjauan monitor jika bukti kamera cukup jelas; untuk gangguan terhadap lawan, penilaian subjektif wasit biasanya lebih penting. “Keputusan akhir selalu dibuat oleh wasit,” demikian prinsip protokol IFAB, bukan oleh layar, operator, atau grafik siaran.

Dalam praktiknya, ada beberapa tahap yang menentukan kualitas keputusan:

  1. Menentukan sentuhan pemicu: kapan bola benar-benar dimainkan oleh rekan setim.
  2. Menentukan titik tubuh: bagian kepala, badan, atau kaki yang berada paling dekat ke garis gawang.
  3. Membandingkan posisi: bola dan lawan kedua terakhir menjadi referensi.
  4. Menilai keterlibatan: apakah pemain memainkan bola, mengganggu lawan, atau memperoleh keuntungan.
  5. Mengomunikasikan keputusan: wasit menerima informasi VAR dan melanjutkan permainan sesuai protokol.

Teknologi semiotomatis offside yang digunakan FIFA dapat mempercepat deteksi posisi, tetapi tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan. Sistem berbasis kamera tetap perlu membedakan sentuhan bola dan menilai apakah pemain mengganggu kiper, menantang bek, atau memperoleh keuntungan. Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar menunjukkan bagaimana teknologi dapat menghasilkan visualisasi tiga dimensi untuk membantu penonton memahami keputusan, namun visual tersebut adalah alat penjelas, bukan teks hukum baru. Pada 2026, penonton tetap sebaiknya menilai keputusan berdasarkan Law 11, bukan berdasarkan apakah garis animasi terlihat menyenangkan. Statistik dan grafik membantu, tetapi hukum tetap menjadi hakim terakhir.

Layar VAR menampilkan garis offside dan posisi bahu penyerang dalam ruang kontrol pertandingan

Bagaimana Cara Membaca Offside Saat Menonton Pertandingan?

Cara membaca offside paling akurat adalah mengunci momen umpan, lalu membandingkan penyerang dengan bola dan lawan kedua terakhir sebelum menilai keterlibatannya. Jangan mulai dari posisi penyerang ketika bola sudah tiba karena pemain bisa berlari beberapa meter selama bola bergerak. Penonton juga perlu membedakan kamera utama dan sudut kamera VAR; perspektif diagonal dapat membuat pemain tampak sejajar padahal tidak, terutama ketika garis lapangan tidak terlihat penuh. Strategi Tim menyarankan penggunaan tiga pertanyaan berurutan: siapa menyentuh bola, di mana posisi penyerang saat sentuhan itu, dan apakah penyerang memengaruhi fase permainan. Metode ini lebih dapat diandalkan daripada mengulang kata “bek terakhir” setiap kali serangan gagal.

Gunakan pemeriksaan cepat berikut ketika menonton pertandingan:

  • Langkah pertama: hentikan perhatian pada sentuhan terakhir sebelum umpan terobosan.
  • Langkah kedua: cari lawan kedua terakhir, bukan otomatis penjaga gawang.
  • Langkah ketiga: abaikan tangan dan lengan dalam menentukan posisi.
  • Langkah keempat: periksa apakah penyerang berada di wilayah lawan.
  • Langkah kelima: cari tindakan aktif, termasuk menghalangi pandangan kiper.
  • Langkah keenam: periksa apakah restart berasal dari lemparan ke dalam, tendangan sudut, atau tendangan gawang.

Kesalahan kamera merupakan informasi penting yang jarang dibahas. Garis offside tidak boleh ditarik berdasarkan kaki saja jika bahu atau kepala penyerang menjadi bagian tubuh paling maju; sebaliknya, tangan yang melewati garis tidak relevan. Pada situasi sangat rapat, perbedaan satu frame dapat mengubah titik sentuhan, terutama ketika bola disentuh dengan ujung kaki. Itulah alasan keputusan offside semiotomatis dan VAR memerlukan sinkronisasi data kamera, bukan sekadar memperbesar satu gambar siaran. Bahkan setelah garis ditampilkan, pertanyaan tentang keterlibatan aktif tetap dapat membutuhkan penilaian manusia. Angka dan piksel tidak otomatis memiliki kebijaksanaan, bukankah itu berlaku pada hampir semua sistem yang dijual sebagai “objektif”?

Pelajari contoh dan istilah taktik yang lebih luas sebelum menyimpulkan keputusan pertandingan.

Pelajari Lebih Lanjut

Bagaimana Menentukan Pilihan yang Tepat Saat Menganalisis?

Untuk analisis pertandingan, gunakan Law 11 sebagai fondasi, lalu tambahkan konteks taktik, kualitas umpan, dan respons pertahanan. Pembaca yang hanya menghitung jumlah offside akan kehilangan alasan mengapa sebuah tim memilih garis tinggi atau mengapa penyerang terus berlari melewati bek. Pembaca yang hanya melihat VAR juga bisa salah karena keputusan teknologi tetap memerlukan klasifikasi keterlibatan aktif. Pilihan analisis terbaik adalah pendekatan berlapis: aturan lebih dulu, bukti visual berikutnya, kemudian konteks strategi dari pelatih seperti Pep Guardiola, Jürgen Klopp, atau Xavi Hernández. Nama besar tidak mengubah hukum, tetapi model permainan mereka membantu menjelaskan mengapa situasi offside muncul berulang kali. Strategi Tim dapat menjadi rujukan untuk menghubungkan keputusan mikro dengan statistik makro, termasuk jumlah umpan terobosan, tinggi garis pertahanan, dan frekuensi serangan balik.

Gunakan Kerangka Tiga Tingkat

  • Tingkat hukum: posisi, momen sentuhan, lawan kedua terakhir, dan pengecualian restart.
  • Tingkat kejadian: sentuhan bola, gangguan lawan, pantulan, penyelamatan, atau tindakan sengaja bek.
  • Tingkat taktik: garis pertahanan, timing lari, pressing, dan ruang di belakang bek.

Kerangka ini juga membantu ketika keputusan wasit tampak kontradiktif. Dua pemain bisa sama-sama berada di posisi offside, tetapi hanya satu yang dihukum karena yang lain tidak ikut aktif. Dua bola sama-sama mengenai bek, tetapi satu merupakan sentuhan tidak sengaja dan lainnya operan sengaja. Dua penyerang sama-sama menghalangi kiper, tetapi hanya satu yang berada di jalur pandangan atau cukup dekat untuk memengaruhi penyelamatan. Detail semacam itu memang mengurangi kesenangan dari vonis instan, tetapi meningkatkan akurasi analisis. Jika target Anda adalah memahami pertandingan, bukan sekadar memenangkan perdebatan grup pesan, probabilitas kesimpulan benar jauh lebih tinggi dengan urutan ini.

statistik pemain dan prediksi pertandingan Piala Dunia 2026 dapat dipakai setelah aturan dipahami, bukan sebagai pengganti pemahaman hukum. Prediksi yang menyebut “tim ini sering terjebak offside” seharusnya memeriksa siapa pengumpannya, dari zona mana umpan diberikan, dan apakah lawan memakai garis tinggi. Data dari FIFA, UEFA, dan penyedia statistik dapat berbeda dalam definisi fase serangan, sehingga sumber dan metodologi perlu diperhatikan. Inilah keuntungan membaca angka dengan skeptis: statistik memberi sinyal, tetapi Law 11 menjelaskan peristiwanya.

Kesimpulan: Jangan Hanya Mencari Bek Terakhir

Aturan offside sepak bola terdiri dari tiga pertanyaan utama: apakah posisi pemain memenuhi syarat offside, apakah ia terlibat aktif, dan apakah situasinya berasal dari pengecualian restart. Posisi kepala, badan, dan kaki dibandingkan dengan bola serta lawan kedua terakhir pada momen sentuhan, sedangkan tangan dan lengan tidak dihitung. VAR membantu menguji momen dan garis, tetapi wasit tetap menilai gangguan serta tindakan aktif. Dengan kerangka Law 11 IFAB, contoh FIFA, dan analisis Strategi Tim, pembaca dapat memahami keputusan tanpa bergantung pada slogan “bek terakhir”. Mulailah menonton dari momen umpan, bukan dari gambar setelah bola masuk gawang; selisih satu sentuhan dapat menentukan seluruh putusan.

Untuk memperdalam analisis pertandingan dan taktik turnamen 2026, lanjutkan ke panduan Strategi Tim.

Pelajari Lebih Lanjut

Frequently Asked Questions

Q: Apa itu aturan offside sepak bola?

A: Aturan offside sepak bola membatasi posisi dan keterlibatan penyerang agar tidak memperoleh keuntungan tidak adil di dekat gawang lawan. Pemain berada dalam posisi offside jika kepala, badan, atau kaki lebih dekat ke garis gawang lawan daripada bola dan lawan kedua terakhir saat rekan setim memainkan bola. Posisi itu baru menjadi pelanggaran jika pemain aktif memainkan bola, mengganggu lawan, atau memperoleh keuntungan dari pantulan maupun penyelamatan. Dasar resminya adalah Law 11 IFAB.

Q: Bagaimana cara menentukan pemain offside?

A: Tentukan momen sentuhan rekan setim, lalu bandingkan bagian tubuh yang dapat mencetak gol dengan bola dan lawan kedua terakhir. Pemeriksaan hanya dilakukan ketika pemain berada di wilayah lawan, karena posisi di wilayah sendiri tidak termasuk offside. Tangan dan lengan tidak dihitung, sedangkan kepala, badan, kaki, dan bahu dapat menjadi bagian paling maju. Setelah posisi ditentukan, periksa apakah pemain benar-benar terlibat aktif dalam fase permainan tersebut.

Q: Apa perbedaan posisi offside dan pelanggaran offside?

A: Posisi offside adalah keadaan geografis pemain, sedangkan pelanggaran offside terjadi ketika pemain dalam posisi itu ikut memengaruhi permainan. Penyerang dapat berdiri di belakang garis pertahanan tanpa dihukum jika tidak menyentuh bola, tidak mengganggu lawan, dan tidak memperoleh keuntungan. Sebaliknya, menghalangi pandangan kiper atau menyentuh bola dari posisi tersebut dapat membuat wasit menghentikan permainan. Perbedaan ini merupakan inti Law 11 dan alasan mengapa setiap posisi offside tidak otomatis menghasilkan peluit.

Q: Mengapa pemain tidak offside dari lemparan ke dalam?

A: Pemain tidak dapat dihukum offside jika menerima bola langsung dari lemparan ke dalam, tendangan gawang, atau tendangan sudut. Pengecualian tersebut berlaku hanya untuk sentuhan langsung dari restart, bukan untuk seluruh fase serangan berikutnya. Jika penyerang mengoper bola dan rekan setim menerima umpan baru, posisi rekan setim dinilai berdasarkan momen sentuhan baru itu. Pelanggaran lain, seperti mendorong bek atau menahan kiper, tetap dapat diberikan meskipun offside tidak berlaku.

Q: Apakah VAR selalu menentukan keputusan offside?

A: VAR tidak selalu menentukan keputusan akhir karena wasit lapangan tetap menjadi pengambil keputusan resmi. Untuk offside faktual, VAR dapat memberi rekomendasi berdasarkan momen sentuhan dan garis posisi; untuk gangguan terhadap lawan, wasit mungkin perlu menilai tayangan di monitor. Protokol IFAB menekankan pemeriksaan terhadap kesalahan jelas dan nyata atau insiden serius yang terlewat. Karena itu, garis virtual membantu mengukur posisi, tetapi tidak otomatis memutuskan apakah penyerang menghalangi kiper.

Q: Apa yang terjadi jika bola memantul dari bek?

A: Bola yang hanya memantul tanpa tindakan sengaja bek biasanya tidak menghapus posisi offside penyerang. Jika penyerang berada offside ketika rekan setim menembak dan kemudian mencetak gol dari pantulan tiang, mistar, bek, atau penyelamatan kiper, ia dapat dihukum karena memperoleh keuntungan. Namun, tindakan bermain bola yang sengaja dilakukan bek dapat memulai penilaian baru dan membuat penyerang tidak lagi offside. Wasit dan VAR menilai arah bola, waktu reaksi, jarak, serta gerakan bek.

Q: Apakah garis offside harus melihat kaki pemain saja?

A: Tidak, garis offside dapat ditentukan oleh kepala, badan, atau kaki yang paling dekat ke garis gawang lawan. Tangan dan lengan dikecualikan karena tidak boleh digunakan untuk mencetak gol secara sah. Bahu dapat dihitung jika menjadi bagian tubuh yang relevan dengan kemungkinan mencetak gol. Inilah alasan gambar VAR kadang menunjukkan garis melalui bahu atau kepala, bukan hanya sepatu penyerang. Perspektif kamera juga perlu diperhatikan karena sudut diagonal dapat membuat posisi sejajar tampak melewati garis.

Akhir Transmisi

Strategi Tim
Arsip Neural
Protokol 001.V

Artikel Terkait